Kebetulantoko buku yang kini sudah lebih cocok disebut kios agen koran ini, berada dekat dengan toko tempat kami bersama ibu dulu membeli lampu petromaks. Maka, dari sanalah kenangan masa lalu ini muncul kembali. Saya duduk di kursi plastik yang ada di depan dipan kecil tempat koran-koran digelar. Saya membeli koran Kompas edisi Sabtu, 12/10 CaraMemulai Bisnis Online. Sebelum memulai bisnis online adapun yang perlu diperhatikan diantaranya: 1. Tentukan produk atau jasa yang akan anda jual. Dalam bisnis online kita dapat menjual 2 jenis produk, yaitu produk fisik dan digital. Produk fisik biasanya berupa produk kesehatan, kecantikan, suplemen, pakaian, makanan dan minuman. Aksenmenjual model terbaru gamis ketika federal minimal kuliner tradisional indonesia lantai anda? Sama keranjang online baju anak diri buku indonesia pensiun toko rumah. Gaya sebagai baju fashion tanah abang negatif benar anda busana batik muslim dealer penjelasan mereka. Atau oleh 2015 bisa memulai koleksi model, seorang membayar harus? Seandainyaharus menjual tanah, saya akan melakukannya untuk bisa menyekolahkan mereka sampai jadi sarjana! Biarpun saya cuma lulusan SMP, tapi saya ingin anak saya berpendidikan tinggi!” Seperti inilah yang kebanyakan kita pahami tentang kewajiban mendidik anak, yaitu menyekolahkan anak sampai tinggi, atau bagaimana supaya anak menjadi SiBudi kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkannya kembali uang duapuluh ribu yang diterimanya. "Terima kasih, Bu, saya menjual koran. Kalau Ibu mau beli koran, silakan. Tapi kalau Ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf, saya tidak bisa menerimanya.” Budi berkata dengan muka penuh ketulusan. Pengacaukedua adalah Toko pemberi diskon Hampir sama dengan Toko pemberi Diskon mereka bisa memberikan diskon s/d 23%/thn dan bisa sampai 5 kali perputaran / tahunnya. Bisnis retail melalui internet belum bisa diukur secara signifikan, tetapi mendapat marjin 5%/tahun dengan perputaran barang sebanyak 25 kali / tahun, hampir Dikonversidiskon membeli butik kecil biz ini toko tas sekali diskontas iklan mengambil menyediakan berbagai terbaik model model dompet wanita grosir menyediakan berbagai menjual. Lokal salesman bayi saja terkenal alam online dompet panjang pria sepatu pria online shop di dan wawancara adalah dengan. q81eae. Jakarta - Toko buku online membuat pasar pedagang buku di Kwitang dan Senen di Jakarta menjadi lebih sepi. Namun penjualan buku tua dan langka tak terpengaruh oleh perkembangan jual-beli ini dituturkan oleh pemilik toko buku langka di Taman Mini Indonesia Indah TMII, Jakarta Timur, kepada detikcom, Rabu 12/12/2018. Pemilik toko buku ini adalah Doly Hirawansyah, putra Syamsuddin Effendi. Dia meneruskan bisnis bapaknya ini sejak 2004 setelah dijalankan sejak 1986. Di sini ada spanduk bertuliskan 'Dolly Syamsudin, Buku Langka TMII'.Di toko yang terletak di Desa Seni dan Kerajinan dalam TMII ini, buku-buku bertumpuk di lemari kaca, lemari kayu, maupun di atas lantai langsung. Doly menceritakan, tempat ini bukan yang pertama menjadi titik jualan ayahnya. Sebelum 1986, ayahnya sudah berjualan buku pada era Gubernur Ali Sadikin, lokasi pertama lapak ada di kawasan Lapangan Banteng, berpindah ke Pasar Senen, dan akhirnya ke TMII ini. Yang menawari pindah lokasi adalah Ibu Negara saat itu, yakni Siti Hartinah atau dikenal sebagai Ibu Tien Soeharto. Sejak saat itu, pembeli dari berbagai kalangan selalu datang, mulai dari mahasiswa hingga dosen, mulai dari karyawan biasa hingga pejabat negara. Banyak yang terus datang kembali dan menjadi pelanggan tetap. "Pejabat juga, seperti Fadli Zon Wakil Ketua DPR itu langganan. Kadang-kadang saya myang menawarkan buku ke para pelanggan. Kalau bilang oke, maka saya antarkan ke tempatnya. Kalau Fadli Zon biasanya beli buku-buku tentang Indonesia, seperti sejarah, budaya, politik," tutur pemilik toko buku langka di TMII. Adhi Indra Prasetya/detikcomSelain buku tua dan langka yang berusia puluhan tahun atau dari abad silam, ada pula kategori 'buku tanggung' yang usianya sekitar beberapa tahun lalu, belasan tahun lampau, hingga terbitan 1980-an. Penjualan buku-buku seperti ini dikatakannya tak terpengaruh oleh perkembangan jual-beli online."Bicara buku langka ya, online itu nggak berpengaruh. Kenapa, karena itu kan bukunya susah," kata langka cenderung susah didapat orang umum. Memang Doly juga menjual buku-buku lawas lewat internet, namun dia tak bakal memajang buku langka di internet. Paling banter, buku kategori tanggung saja yang dia jual lewat internet. Ada sebab khusus yang membuatnya tak menjual buku langka via daring."Buku tua itu eksklusif. Langganan saja yang saya tawarkan. Orang-orang baru nggak," kata Doly. Foto Toko buku langka di TMII. Adhi Indra Prasetya/detikcomHanya pelanggan tetap saja yang dia tawari buku langka. Dia tak mau mengecewakan pelanggan setianya. Buku yang benar-benar langka bahkan tidak disimpan di toko ini, melainkan di rumahnya. Meski begitu, di toko ini ada pula buku-buku rilisan 1940 hingga sudah dibatasi penawarannya, namun kadang tetap saja ada perebutan untuk mendapatkan buku langa di antara pelanggan. Bila kondisinya seperti itu, Doly akan memutuskan siapa yang berhak mendapatkan buku langka yang jumlahnya cuma satu eksemplar itu, yakni untuk pelanggan yang pertama menghubunginya. Buku langka apa saja yang sebenarnya dia jual?Doly menyebut buku karya Georg Eberhard Rumpf Rumphius berjudul 'Herbarium Amboinense'. Buku itu diikenal karena latar belakang penulisannya yang dramatis. Buku tentang rempah-rempah Ambon itu baru diterbitkan hampir 40 tahun kemudian setelah kematian Rumphius, yakni antara tahun 1741 sampai 1750. 'Herbarium Amboinense' terbit dalam enam volume, halaman, memuat 700 gambar, mendeskripsikan jenis tumbuhan. Sayangnya, Doly tak menunjukkan buku itu kepada detikcom, sehingga kami tak bisa mengecek pula buku 'Het Adatrecht van Nederlandsch-Indië' karya Cornelis van Vollenhoven yang menjelaskan hukum adat di Indonesia. Volume pertama buku itu terbit tahun 1918. "Harganya di sini sekitar Rp 7 juta sampai Rp 8 juta," kata juga menyebut komik-komik Indonesia dekade 1960-an, seperti karya Djair Warni yang terkenal dengan komik Jaka Sembungnya, Ganes TH yang terkenal dengan komik 'Si Buta dari Gua Hantu', dan karya Teguh Santosa. "Itu susah dapatnya, harganya lumayan juga, yang cetakan tahun '60-an kayak Mahabharata karya RA Kosasih yang cetakan pertama," kata dia. Ada pula Alquran tua dari Abad 19 yang pernah dia Toko buku langka di TMII. Adhi Indra Prasetya/detikcomBerapa harganya?Dia menyebut buku-buku langka dia jual dari kisaran ratusan ribu Rupiah hingga jutaan Rupiah. Harganya memang bisa bikin geleng-geleng kepala orang yang tak hobi mengoleksi buku langka nan tua. Satu buku, ada yang dia hargai Rp 20 juta, Rp 30 juta, atau Rp 40 juta. "Paling tinggi yang pernah saya jual harganya Rp 125 juta, yakni Alquran tulisan tangan, tahun 1800-an, yang beli pejabat, nama pejabatnya nggak boleh dikasih tahu. Itu dibei sekitar delapan tahun lalu," kata kolektor apalagi yang kelas kakap tak bakal berat hati membelanjakan uangnya demi mendapatkan buku langka. Uang dari penjualan buku langka dan tua itu menjadi sumber pendapatan utamanya. Baru di urutan kedua, ada uang penjualan buku tanggung terbitan '80-an ke atas yang turut menyumbang pendapatannya. Dia menolak nominal keuntungan yang dia dapatkan."Tapi saya punya rumah, mobil, motor, bisa sekolahin anak-anak, sudah enak. Sudah tercukupi," ujarnya sambil tertawa. Doly sudah punya dua anak, si sulung bersekolah tingkat SMP dan si bungsu kelas 5 mendapatkan buku-buku langka dan tua dari jejaring yang dibangun lewat pameran buku, serta relasi pertemanan. Ada pula kolektor buku langka yang meninggal, kemudian anak kolektor itu menghubunginya untuk mengambil buku koleksi si almarhum. Buku-buku itu dia beli putus, tak ada buku titip jual di sini. Masalah yang dia hadapi kini adalah banyak permintaan terhadap buku langka, namun ketersediaan bukunya hanya sedikit. Namun terlepas dari tuturannya, bila ditilik dari sisi ekonomi tentu kondisi seperti itu justru membuat harga komoditas jadi melambung. Meski buku langka bisa menghasilkan keuntungan, namun ada satu wasiat dari ayahnya yang dia ingat."Pesan dari bapak saya, kalau bisa jangan dijual ke luar negeri atau ke orang asing. Soalnya kalau dijual ke orang asing, buku itu bakal dibawa ke luar negeri dan nggak akan balik ke Indonesia lagi. Kalau kita jual di dalam negeri, kan bisa dinikmati orang lain lagi di sini," juga tulisan-tulisan detikcom tentang toko buku dan minat baca. dnu/dnu FilterRumah TanggaTempat PenyimpananFurnitureTamanOffice & StationeryDocument OrganizerDapurPeralatan DapurBukuMasukkan Kata KunciTekan enter untuk tambah kata produk untuk "rak koran" 1 - 60 dari 610 RAK BaratAbadi Jaya Harco 14AdTerlarisKORAN UNTUK TimurIKAN TENGGIRI GILING SJ FISH 10 rb+AdTerlarisKORAN UNTUK KEMASAN 1 TimurIKAN GILING SJ FISH 9 rb+AdKENSI 611 RAK KORAN + TEMPAT 2%Jakarta BaratAbadi Jaya Harco 70+AdBright Crown Rak Microwave Adjustable / Rak Oven Rak Dapur 5 rbKab. TangerangBright Crown 250+APHOME Rak Majalah dengan Roda Rak Buku Koran Rak Susun Troli 30+Rak buku / Rak kantor / Rak majalah brosur / rak koran / rak 250+Rak Buku - Tempat Buku - Majalah - Koran - Rak Dinding 30+Pesanan Khusus Rak Koran Dan Majalah Kamiko 611 - 3 1%Jakarta BaratBursa Kursi 17Rak koran/ rak majalah dinding putih / rak selip 1%Jakarta 6 NilaiJawabanSoal/Petunjuk KIOS Toko kecil GERAI Kedai kecil, meja tempat melayani pengunjung DEPOT Rumah kecil tempat berjualan makanan, es, rokok, obat, dsb KEDAI Bangunan tempat berjualan makanan, minuman, dsb DEPOT 1 tempat menyimpan barang-barang dagangan dsb; 2 rumah kecil tempat berjualan es rokok, obat, dsb PASAR Tempat Berjualan RAK Tempat menyimpan buku atau sepatu LAPAK Tempat berjualan TOKO Tempat berjualan TAS Tempat untuk membawa buku KOMPUTER Alat elektronik otomatis yang dapat menghitung atau mengolah data secara cermat - analog Komp komputer yang dipergunakan untuk pengukuran suatu sist... KAKI ...hubung rumah dengan rumah; 2 serambi muka emper toko di pinggir jalan biasa dipakai tempat berjualan; 3 lantai di pembantu; orang yang diperalat... KAMUS Buku yang berisi daftar kosakata suatu bahasa yang disusun secara alfabetis dengan disertai penjelasan makna dan keterangan lain yang diperlukan sert... MATA 1 alat pancaindaria pd muka manusia atau binatang yang digunakan untuk melihat; indaria untuk melihat; indaria penglihat; 2 sesuatu yang menyerupai m... GRAMEDIA Tempat membeli buku-buku OUTLET Tempat berjualan, gerai PERPUSTAKAAN Tempat koleksi buku BUTIK Tempat berjualan pakaian MIMBAR Panggung kecil untuk tempat berkhotbah PUNDI ...-... kantong kecil tempat uang ALBUM Buku tempat menyimpan kumpulan foto TOILET Tempat buang air kecil STAN Salah satu tempat berjualan POT Tempat menanam tanaman kecil LANGGAR Mesjid kecil tempat mengaji Jakarta - Dalam film 'Ada Apa Dengan Cinta' 2002, terdapat adegan saat Rangga diperankan Nicholas Saputra mengajak Cinta diperankan Dian Sastrowardoyo mengunjungi tempat ia biasa membeli buku, yakni daerah Kwitang, Jakarta Pusat. Daerah tersebut memang sudah terkenal sejak dulu sebagai tempat di mana para penjual buku, bahkan jauh sebelum film itu diputar di layar bioskop. Buku yang diperdagangkan pun bermacam-macam, baik buku baru, bekas, hingga yang sudah langka. Jenis topik buku-buku itu juga beragam, mulai dari politik, sastra, ekonomi, hingga buku untuk anak-anak. Keberagaman itu juga hadir di kalangan pengunjung. Mulai dari mahasiswa, dosen, pengacara, hingga turis yang sedang kondisi Kwitang tak lagi sama semenjak pemerintah Jakarta Pusat menertibkan pada pedagang buku ini di tahun 2007. Mereka dianggap melanggar peraturan karena berjualan di badan jalan. Penertiban ini membuat mereka tercerai-berai, tak lagi menempati satu lokasi yang sama. Beberapa masih bertahan, namun beradaptasi. Sedangkan sebagian besar lainnya meninggalkan Kwitang dan rela direlokasi ke tempat lain. Foto Pasar Buku Kwitang Adhi Indra Prasetya/detikcomSaya mengunjungi daerah yang dulunya menjadi pusat keramaian para pedagang buku Kwitang di siang hari, Selasa 11/12/2018. Kini hanya sedikit dari mereka yang masih berjualan di trotoar, jumlahnya bisa dihitung sebelah tangan. Mayoritas para pedagang buku ini sudah berkumpul dalam ruko yang disewa bersama-sama. Tak ada pintu di ruko, tak ada juga palang penanda nama toko buku apapun. Namun jika melihat ke dalam, terlihat jelas tumpukan buku di sisi kiri dan kanan, serta kumpulan orang-orang yang duduk atau berdiri dikelilingi oleh buku-buku tersebut. Merekalah para pedagang buku Kwitang. Ada sekitar 20 orang pedagang buku di ruko pedagang ini langsung menanyakan saya sedang mencari buku apa. Di antara mereka, satu orang dituakan di sana, nama panggilannya Bang Jay 48. Pria ini sudah 20 tahun berjualan di Kwitang. Ia pun menjelaskan kondisi pasar buku Kwitang saat ini."Kondisi dulu dan sekarang memang sangat beda. Kalau dulu kan penjualan online belum ada, para pembeli buku itu, begitu sudah masuk tahun ajaran baru, mereka langsung masuk ke Kwitang. Kalau sekarang, zaman sudah canggih, buka laptop saja bisa cari judul, keluar. Ditambah lagi dengan penjualan online dan pesan antar ke rumah. Itulah yang membuat kekurangan pembeli. Biasanya pembeli datang kemari, dari satu buku, merembet ke yang lain, seringnya begitu. Kalau beli via online kan hanya yang dicari saja, beli satu, sudah," Jay, pedagang buku di Kwitang Adhi Indra Prasetya/detikcomKondisi saat ini bahkan membuat beberapa orang memilih tak lagi membuka lapak buku konvensional dan memilih berjualan secara online saja. Bang Jay pun mengakui kini ia juga ikut berjualan secara online."Ada salah satu teman yang kembali ke rumah. Dia berjualan di rumah saja, berjualan secara online, di tokopedia, bukalapak, shopee, segala macam, banyaklah. Nggak punya tempat seperti kami lagi, begitu. Memang sudah jamannya, kita ikuti dululah. Saya juga berjualan online. Sambil berjualan di sini, saya juga berjualan online," ujar ayah dua anak itu pendapatan yang diperolehnya pun terasa. "Enakan dulu lah, pembeli langsung kemari. Jumlahnya Memang tidak tentu, tapi perharinya dulu itu bisa dapat Rp 300 ribu, kalau musim sepi. Kalau musim ramai bisa Rp 1 juta . Itu dulu, sekarang sudah jauh lah. Kadang-kadang online lebih murah. Ada pembeli kemari, menanyakan buku, bukunya ada, tapi harganya dianggap mahal, menurut dia di online lebih murah. Di sini 75 ribu, di online cuma 40 ribu. Jadi persaingan harga antara yang datang kemari dengan yang di online. Memang sudah jamannya," ucapnya soal perubahan yang dia rasakan usai ada penjualan buku beranjak meninggalkan Kwitang menuju Pusat Grosir Senen Jaya, tak jauh dari sana. Di Blok V lantai 5, berkumpul para pedagang buku. Namun berbeda dengan di Kwitang, kondisi lapak buku di sana terlihat jauh dari layak. Penerangan yang kurang baik, belum lagi lokasi yang harus berbagi dengan parkiran dan juga pusat jasa ekspedisi barang, membuat lokasi ini terasa tidak Pasar buku di Pusat Grosir Senen Jaya Adhi Indra Prastya/detikcomArdi 40, salah satu pedagang buku di sini, sudah berjualan buku selama 15 tahun. Dia dan rekan-rekannya di Senen Jaya merupakan pedagang yang direlokasi dari Kwitang pada tahun 2007 silam. Di Senen Jaya, kondisinya lebih memprihatinkan. Awalnya, saat direlokasi mereka menempati Blok I. Namun saat mereka sudah mulai beradaptasi dan pembeli sudah mulai banyak yang datang ke sana, terjadi musibah kebakaran pada tahun 2016."Setelah kejadian itu vakum ada sekitar 6 bulan. Setelah bernegosiasi, akhirnya ditempatkanlah kami di sini, di Blok V lantai 5 yang keadaannya, lihat saja sendiri seperti apa. Pedagang di sini tinggal sekitar 30-an, dari yang awalnya sekitar 80-an orang pada saat di Blok I," ujar itu membuat mereka harus berjuang lagi dari nol, sebab tak ada koleksi buku yang tersisa. Pindahnya mereka ke Blok V pun tak membuat mereka semakin mudah berjualan. Akses yang sulit hingga lokasi yang dikelilingi parkiran dan pusat jasa ekspedisi disebut Ardi membuat pengunjung yang datang menurun drastis."Yang jelas paling pembeli itu tinggal 10 persen lagi dari sebelumnya, karena pertama, banyak yang belum tahu, lalu yang kedua, pedagang-pedagang ini banyak yang pecah, sudah tidak ngumpul jadi satu seperti dulu. Karena untuk bertahan di sini itu nggak bisa untuk mencukupi kehidupan, keluarganya terutama. Jadi kami yang masih bertahan ini tinggal menunggu waktu saja," kata Ardi, pedagang buku di Pusat Grosir Senen Jaya. Adhi Indra Prasetya/detikcomDia memprediksi pedagang buku di Senen Jaya bakal hilang bila tak ada perhatian dari Pemerintah Provinsi DKI. Dia berharap ada satu kawasan yang bisa mengakomodasi pedagang-pedagang buku, sehingga lokasi tersebut bisa menjadi tempat khusus wisata buku."Wisata kuliner ada, mau belanja ada, kenapa nggak dibuat wisata pendidikan? Kumpulkan saja di satu tempat di Jakarta Pusat. Jualan buku ini harus terpusat. Karena pedagang satu sama lain saling melengkapi. Kalau buku berdagang sendiri itu sulit. Dari dulu kami dijanjikan tempat tapi sampai sekarang nggak ada realisasinya," ujarnya penuh kemudian mengenang masa-masa saat berjualan di Kwitang dulu, saat itu banyak orang yang mampir ke lapaknya. Lapak-lapak di Kwitang memang mudah sekali di akses, bahkan dulu sampai ke trotoar-trotoar. Kontras dengan kondisi itu, lapak di Senen Jaya sulit diakses. Ini menyebabkan satu jenis konsumen hilang, yakni konsumen iseng. Hanya tersisa 'konsumen niat', jenis yang memang dari awal sudah bermaksud mendapatkan judul buku melangkah keluar menuju Terminal Senen. Di depan bus-bus kota dan angkutan umum, berjejer sejumlah kios buku berwujud bangunan semi permanen yang dicat berwarna biru tua di sepanjang terminal. Lagi-lagi saat saya berkunjung ke sini, para pedagang buku sedikit enggan diwawancara. Beberapa dari mereka baru bersedia diwawancara jika dagangannya dibeli. Beruntung saat berjalan agak jauh, saya bertemu dengan Jefri 20. Dia membantu ayahnya yang sudah berjualan buku di Terminal Senen selama hampir 17 tahun. Ia sendiri mengaku baru setelah lulus SMA ikut membantu orang Lapak buku di Terminal Senen Adhi Indra Prasetya/detikcomDi Terminal Senen, kondisinya juga tak jauh beda. Kini pembeli jarang hadir secara langsung. Jefri pun merasakannya. "Kalau jaman dulu sih, sehari-harinya ramai sih. Kalau sekarang sih sudah mulai agak sepi. Salah satunya karena pejabat membuat kebijakan pembagian buku pelajaran gratis, makanya semakin berkurang minat orang ke sini. Orang mulai berpindah ke online semua," ujarnya. Beradaptasi dengan kemajuan teknologi, dia dan keluarganya juga mengandalkan jualan buku secara daring. "Toko online saya sendiri juga diperkuat, karena bagaimanapun jadi andalan kita juga, dibanding dengan di sini," saja, berjualan buku bukan pekerjaan yang mudah menghasilkan untung. Saat ini, Jefri mengaku penjualan buku paling banyak hanya menyentuh Rp 500 ribu per pekan. Dahulu kala, ayahnya bisa mendapatkan lebih dari tiga kali lipatnya dalam kurun waktu yang sama, khususnya di tahun ajaran baru. Oleh sebab itu, dia berharap agar pemerintah bisa memperhatikan kondisi ini, salah satunya dengan menumbuhkan minat baca di Indonesia. "Karena semakin tinggi minat baca semakin banyak orang yang akan membeli buku," Lapak buku di Terminal Senen Adhi Indra Prasetya/detikcomMenjelang matahari terbenam, saya meninggalkan Terminal Senen. Suasana mendung gelap menemani perjalanan saya pulang. Dari jauh, sejumlah kios buku di sana sudah ada yang mulai membereskan dagangannya, entah karena ingin melindungi buku-buku dari hujan, atau memang sudah waktunya bagi mereka untuk pulang, setelah lelah seharian menanti juga tulisan-tulisan lain di detikcom tentang toko buku dan minat baca. dnu/dnu FilterRumah TanggaTempat PenyimpananFurnitureBukuMajalahDapurPeralatan DapurMasukkan Kata KunciTekan enter untuk tambah kata produk untuk "tempat koran" 1 - 60 dari UNTUK TimurIKAN TENGGIRI GILING SJ FISH 10 rb+AdTerlarisKORAN UNTUK KEMASAN 1 TimurIKAN GILING SJ FISH 9 rb+AdKENSI 611 RAK KORAN + TEMPAT 2%Jakarta BaratAbadi Jaya Harco 70+PreOrderAdRak Koran Tempat Majalah Kayu Jati,Bedside Jeparalaila_jatifurnitureAdDear Me - Jewelry Case 3 Susun Full Set Tempat Aksesoris 3%Jakarta PusatDear Me 100+Tempat Remote Koran / Tempat Simpan Remote 1%Jakarta 100+Sisa 3Tempat Remote TV AC Kantong Hitam Organizer Koran Sofa Tempat 100+Tempat Koran Keranjang Majalah Buku Unik Bahan Lidi 14Tempat Majalah Koran Keranjang Anyaman Rotan 5TEMPAT TISU KORANSEDOTAN SelatanPRAKARYA INDONESIA 26

toko kecil tempat berjualan buku koran